Jumat, 19 Desember 2014

Filsafat rasionalisme

ALIRAN FILSAFAT ILMU RASIONALISME

Filsafat ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang sangat berguna untuk menjelaskan apa tujuan ilmu bagi manusia. Secara garis besar, filsafat ilmu mengemukakan alasan yang mendasar mengapa pengetahuan diperlukan bagi keteraturan dalam hidup manusia. Tujuan analisis filsafat ilmu adalah tentang ilmju pengetahuan dan cara-cara bagaimana pengetahuan ilmiah itu diperoleh. Jadi, filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri. Dalam filsafat ilmu terdapat aliran rasionalisme yang tercipta dari pemikiran manusia tentang segala sesuatu yang sifatnya logis. Erat kaitannya antara filsafat ilmu dengan aliran rasionalisme dalam filsafat.
Kata kunci : Filsafat, Ilmu pengetahuan, pengetahuan ilmiah, rasionalisme.

PENDAHULUAN

            Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab pertanyaan pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus. Filsafat membebaskan manusia daricara berpikir yang mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir secara luas dan lebih mendalam, yakni berpikir secara universal sambil berupaya mencapai radix (mendalam) dan menemukan esensi suatu permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak utuh dan begitu fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren. Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya. Kemampuan itu dipelajari melalui dua jalur, yaitu secara sistematik dan secara historis.

            Filsafat secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yakni filsafat sistematis dan sejarah filsafat. Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran filsafat. Di dalamnya meliputi logika, metodologi, epistimologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan (teologi), filsafat manusia dan kelompok filsafat khusus. Dalam filsafat sistematis yang terdapat di dalamnya filsafat ilmu terbentuk sebuah aliran filsafat yang diberi nama rasionalisme. Seiring dengan berjalannya waktu banyak aliran-aliran filsafat yang bermunculan didasarkan pada pembebasan manusia untuk berfikir secara luas dan lebih mendalam terhadap sesuatu hal yang ada di bumi ini. Karena filsafat membimbing manusia untuk berpikir sistematis dan logis timbullah aliran filsafat ilmu rasionalisme yang mendasarkan segala sesuatunya berdasarkan akal sehat.

ANALISA DAN PEMBAHASAN

            Pada abad ke-13 di Eropa sudah timbul sistem filsafat yang boleh disebut merupakan keseluruhan. Sistem ini diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dalam abab ke-14 timbulah aliran yang dapat dinamai pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar aliran baru ini ialah kesadaran atas yang individual yang kongkrit. Tak dapat dipungkiri zaman filsafat modern telah dimulai, munculnya berbagai aliran pemikiran, yaitu : Rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, positivisme, evolusionisme, materalisme, neokantianisme, pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi, eksistensialisme. Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz).

Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (resen) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengatahuan. Jika empiresme mengatakan bahwa pengatahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengejarkan bahwa pengatahuan di peroleh dengan cara berfikir alat dalam berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.

Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.

Metode yang diterapkan dalam aliran ini adalah deduktif. Disebut ilmu deduktif karena semua pemecahan yang dihadapi dalam ilmu ini tidak didasarkan atas pengalaman indrawi/empiris, melainkan atas dasar deduksi/penjabaran. Deduksi ialah proses pemikiran dimana akal budi manusia dari pengetahuan tentang hal-hal umum dan abstrak menyimpulkan tentang hal-hal yang bersifat khusus dan individual. Teladan yang dikemukakan adalah ilmu pasti. Filsufnya antara lain Rene Descartes, B. Spinoza, Leibniz.

Dalam hal aktivitas pengertian dan penilaian manusia, aliran rasionalisme seperti yang diaktakan oleh Immanuel Kant, penekanan yang terdapat dalam pengertian dan penialaian manusia adalah menurut aspek atau segi kejiwaan sebagai analisis kritis. Menurut Kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu pengetahuan alam, seperti yang telah disusun oleh Newton. Ilmu pengetahuan alam itu telah mengajarkan kita, bahwa perlu terlebih dahulu secara kritis menilai pengenalan atau tindakan mengenal itu sendiri.

 Pemikiran Pokok Descartes, Spinoza, Dan Leibniz
1.      Deskartes ( 1596-1650)
Pada bukunya yang berjudul di caurs deia methode ( 1537) dan meditations ( 1642) kedua buku ini saling melengkapisatu sama lain. Didalam kedua buku inilah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu, metode ini juga sering disebut cogito Descartes, atau metode catigo saja.
Ia mengatahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokooh-tokoh gereja. Bahwa dasar filsafat vharuslah rasio (akal) untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun orgumentasi yang sangat terkenal.
Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu segala sesuatu yang dapat diragukan. Didalam mimpi seolah olah seorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (juga) begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi.
Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita juga, itu tidak ada. Akan tetapi benda-benda itu sunguh-sunguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi. Halusinasi. Ilusi dan roh halus.

2.      Spinoza ( 1632-1677 M)
Dalam gometri. Spinoza memulai dengan meletakkan defenisi- defenisi, cobalah perhatikan beberapa contoh defenisi ini yang digunakan dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dalam metafisika defenisi ini diambil dari Solomon : 73)
Berikut beberapa definisinya :
a.       sesuatu yang sebabnya pada dirinya saya maksudkan esensinya mengandung eksistensi, atau sesuatu yang hanya dipahami sebagai adanya.
b.      sesuatu dikatakan terbatas bila ia dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain, misalnya tubuh kita terbatas, yang membatasinya ialah besarnya tubuh kita itu.
c.       yang saya maksud dengan kekekalan (etermity) ialah sifat pada aksistensi itu tadi spinosa berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu haruslah abadi sama halnya dengan tatkala ia berbicara dalam astronomi, defenisi selalu di ikuti oleh aksioma. Aksioma ialah jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus.
Aksioma-aksioma :
·         sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui dirinya sendiri.
·         dari suatu sebab tentu di ikuti bila tidak ada sebab tidak mungkin ada akibat yang mengikutinya.
·         pengetahuan kita tentang akibat di tentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab.

3.      Lleibniz (1646-1716)
Metafisika Lleibniz sama memusatkanperhatian pada substansi. Bagi spinoz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza ,alam semesta ini mekanistis dan keseluruhnya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Lleibniz adalah tujuan. Penentuan prinsip filsafat (eiguiz ialah prinsip akan yang mencukupi, yang secara sederhana dapat di rumuskan sesuatu harus mempunyai masalah bahkan tuhan harus mempunyai masalah untuk setiap yang di ciptaan-nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat Lleibniz.
Sementara sfinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, Leibniz berpendapat bahwa substansiitu monad, setiap monad berbeda satu dengan yang lain dan tuhan (sesuatu yang super monad dan satu-satunya monad yang tidak di cipta)adalah pencipta monad-monad itu. Maka karya leigniz tentang ini di beri judul menadologis (studi tentang monad / yang di seterusnya 1714. ini adalah serusnya).
Monad yang kita bicarakan di sini , adalah substansi yang sederhana, yang selanjutnya menyusun substansi yang sederhana,yang selanjutnya menyusun substansi yang lebih besar. Satu substansi sederhana ialah : substansi yang kecil yang tidak dapat di bagi.


Adapun substansi yang berupa susunan (Compositas)jenis dapat di bagi. Akan tetapi, ada kesulitan di sini. Bila simple sub stance (monad) itu terletak dalam ruang, maka akibatnya ia mesti dapat di bagi. Oleh karena itu,Leibniz menyatakan bahwa semua monad itu haruslah material dan tidak mempunyai ukuran,tidak dapat di bagi.

          Manfaat dari aliran rasionalisme ini jika kita mengkaji hal positifnya bisa kita terapkan dalam hal pendidikan. Mencobalah berfikir secara logis dalam setiap tindakan yang diambil dalam kehidupan ini. Berfikir secara logis bisa membuat kita berfikir beberapa kali dalam hal pengambilan keputusan. Tapi perlu disika[i pula bahwa tidak semua hal bisa di logikakan, karena segala sesuatu yang di dunia ini ada yang bisa dan ada yang tidak masuk kedalam akal budi manusia. Kita hanya perlu mengkaji ilmu-ilmu yang ada dan menggunakan akal budi untuk mempelajarinya tapi tidak menggunakan akal budi untuk segala sesuatu hal yang ada di muka bumi ini.


PENUTUP

Kesimpulan
Rasionalisme merupakan aliran falsafah yang berpandangan bahwa dasar dan sumber pengetahuan, atau secara umum falsafah, adalah akal atau rasio. Adalah akal, yang bisa dijadikan dasar sekaligus sumber pengetahuan, sehingga berhasil memperoleh pengetahuan yang tetap dan pasti, serta absolut dan universal.
Sebagai sebuah epistemologi, rasionalisme menggunakan aksioma-aksioma, pengertian-pengertian atau prinsip-prinsip umum rasional yang bersifat a-priori (tidak peduli), sebagai basis pengetahuan sekaligus sebagai sumber. Apa yang bersesuaian dengan prinsip- prinsip dimaksud ini, dan segala hal yang dapat dideduksikan dari prinsip-prinsip tersebut, itulah pengetahuan bagi kalangan rasionalisme. Sesuatu yang tidak dideduksikan dari prinsip-prinsip a-priori, atau tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, itu bukanlah pengetahuan, ia hanyalah sekedar opini.
Rasionalisme  keberpihakannya hanya terhadap akal atau rasio, rasionalisme pada akhirnya memang banyak menuai kritik. Namun demikian, problem dan kritik atas rasionalisme tersebut, tentunya bukan berarti bahwa rasionalisme tidak mempunyai arti atau manfaat sama sekali. Sebaliknya, sebagai sebuah aliran falsafah sekaligus sebuah epistemologi, kiranya rasionalisme telah berjasa banyak bagi sejarah falsafah. Melalui bapak kontinentalnya, rasionalisme telah menjadi pintu utama bagi kelahiran falsafah babak modern, yang pada gilirannya telah berhasil melahirkan berbagai aliran-aliran falsafah lainnya, termasuk aliran yang menentangnya.
Saran
Penulis sangat menyadari bahwa dalam pembuatan journal ini masih belum sempurna. Penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, untuk kesempurnaan journal ini, dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita tentang filsafat umum khususnya rasionalisme (descarte, spinoza dan Leibniz).





DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu,  Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan kerangka Teori Ilmu Pengetahuan , Yogyakarta : Belukar, 2004 .
Drs. H. Ahmad Syadali dan Drs. Muzakir, Filsafat Umum,  Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2005
Prof.Dr. Bakhtiar Amsal, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010
Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009



PGSD 3/D8
Hp : 089622214077


Tidak ada komentar:

Posting Komentar