Annyeonghaseo ^^. Let me introduce my self. My name is Novia Anggraeni but you can call me opi ;). I was studied on PGSD UNTRTA 2013, i'm ROBSTENSESSED, MINSULANS, KRISBIAN, ROBSESSED and also a TWIHARD *.*
Selasa, 30 Desember 2014
Manfaat Mempelajari Filsafat
MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha
untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Dr. Oemar A. Hosein
mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan
hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan
yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis
dalam bukunya: Pembimbing ke Filsafat Metafisika, filsafat itu dapat memberikan
ketenangan pikiran-pikiran dan kematangan hati, sekalipun menghadapi maut.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of
Philosophy menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan
semangat masa ketika kita hidupi, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat
adalah kreatif, menerapkan nilai, menerapkan tujuan, menentukan arah dan
menuntun pada jalan baru.
Berbeda
dengan pendapat Soemadi Soejabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk
mempertajam pikiran maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup
diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat
kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku),
maupun Metafisika (hakikat keaslian).
Manfaat
mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam
faedah, yaitu :
1. Agar
terlatih berpikir serius
2. Agar
mampu memahami filsafat
3. Agar
mungkin menjadi filsafat
4. Agar
menjadi warga negara yang baik
Berfilsafat
ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan
pemikiran secara serius. Plato menghendaki kepala negara seharusnya filosuf.
Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan
memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam,
menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Dengan
uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa secara kongkrit manfaat mempelajari
filsafat adalah :
1. Filsafat
menolong mendidik,
2. Filsafat
memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan
persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3. Filsafat
memberikan pandangan yang luas
4. Filsafat
merupakan latihan untuk berpikir sendiri
5. Filsafat
memberikan dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika)
maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa,
ilmu mendidik, dan sebagainya.
Senin, 29 Desember 2014
[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsfat Pendidikan
- http://opiiecullendraft.blogspot.com/2014/12/filsafat-rasionalisme_19.html
- http://opiiecullendraft.blogspot.com/2014/12/dinamika-hidup-di-kalangan-remaja.html
- http://opiiecullendraft.blogspot.com/2014/12/blog-post.html
- http://opiiecullendraft.blogspot.com/2014/12/manfaat-mempelajari-filsafat.html
- http://opiiecullendraft.blogspot.com/2014/12/blog-post_30.html
Judul Tugas yang sudah dibuat
Jumat, 19 Desember 2014
Filsafat rasionalisme
ALIRAN FILSAFAT
ILMU RASIONALISME
Filsafat ilmu merupakan cabang ilmu
filsafat yang sangat berguna untuk menjelaskan apa tujuan ilmu bagi manusia.
Secara garis besar, filsafat ilmu mengemukakan alasan yang mendasar mengapa
pengetahuan diperlukan bagi keteraturan dalam hidup manusia. Tujuan analisis
filsafat ilmu adalah tentang ilmju pengetahuan dan cara-cara bagaimana
pengetahuan ilmiah itu diperoleh. Jadi, filsafat ilmu adalah penyelidikan
tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk memperolehnya. Pokok
perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri. Dalam
filsafat ilmu terdapat aliran rasionalisme yang tercipta dari pemikiran manusia
tentang segala sesuatu yang sifatnya logis. Erat kaitannya antara filsafat ilmu
dengan aliran rasionalisme dalam filsafat.
Kata
kunci : Filsafat, Ilmu pengetahuan, pengetahuan ilmiah, rasionalisme.
PENDAHULUAN
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa
dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab
pertanyaan pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang
metode-metode ilmu khusus. Filsafat membebaskan manusia daricara berpikir yang
mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional.
Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan
membimbing manusia untuk berpikir secara luas dan lebih mendalam, yakni
berpikir secara universal sambil berupaya mencapai radix (mendalam) dan menemukan esensi suatu permasalahan. Filsafat
membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih
dengan membimbing manusia untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat
juga membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak utuh dan begitu
fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan
koheren. Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan asasi manusia
tentang makna realitas dan ruang lingkupnya. Kemampuan itu dipelajari melalui
dua jalur, yaitu secara sistematik dan secara historis.
Filsafat secara garis besar dapat
dibagi ke dalam dua kelompok, yakni filsafat sistematis dan sejarah filsafat.
Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan
pemikiran filsafat. Di dalamnya meliputi logika, metodologi, epistimologi,
filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan (teologi), filsafat
manusia dan kelompok filsafat khusus. Dalam filsafat sistematis yang terdapat
di dalamnya filsafat ilmu terbentuk sebuah aliran filsafat yang diberi nama
rasionalisme. Seiring dengan berjalannya waktu banyak aliran-aliran filsafat
yang bermunculan didasarkan pada pembebasan manusia untuk berfikir secara luas
dan lebih mendalam terhadap sesuatu hal yang ada di bumi ini. Karena filsafat
membimbing manusia untuk berpikir sistematis dan logis timbullah aliran
filsafat ilmu rasionalisme yang mendasarkan segala sesuatunya berdasarkan akal
sehat.
ANALISA DAN
PEMBAHASAN
Pada abad ke-13 di Eropa sudah
timbul sistem filsafat yang boleh disebut merupakan keseluruhan. Sistem ini
diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dalam abab ke-14 timbulah
aliran yang dapat dinamai pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar
aliran baru ini ialah kesadaran atas yang individual yang kongkrit. Tak dapat
dipungkiri zaman filsafat modern telah dimulai, munculnya berbagai aliran
pemikiran, yaitu : Rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, positivisme,
evolusionisme, materalisme, neokantianisme, pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi,
eksistensialisme. Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran
Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz).
Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat
yang mengatakan bahwa akal (resen) adalah alat terpenting dalam memperoleh
pengatahun dan mengetes pengatahuan. Jika empiresme mengatakan bahwa
pengatahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme
mengejarkan bahwa pengatahuan di peroleh dengan cara berfikir alat dalam
berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.
Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal
sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut
terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran
kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh
kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan
kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan
dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.
Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal
telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan
akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada
abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa
saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua
anggapan yang tidak rasional.
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan
lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal
sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang
filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori
suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang
sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran
rasionalisme.
Metode
yang diterapkan dalam aliran ini adalah deduktif. Disebut ilmu deduktif karena
semua pemecahan yang dihadapi dalam ilmu ini tidak didasarkan atas pengalaman
indrawi/empiris, melainkan atas dasar deduksi/penjabaran. Deduksi ialah proses
pemikiran dimana akal budi manusia dari pengetahuan tentang hal-hal umum dan
abstrak menyimpulkan tentang hal-hal yang bersifat khusus dan individual.
Teladan yang dikemukakan adalah ilmu pasti. Filsufnya antara lain Rene
Descartes, B. Spinoza, Leibniz.
Dalam
hal aktivitas pengertian dan penilaian manusia, aliran rasionalisme seperti
yang diaktakan oleh Immanuel Kant, penekanan yang terdapat dalam pengertian dan
penialaian manusia adalah menurut aspek atau segi kejiwaan sebagai analisis
kritis. Menurut Kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu
pengetahuan alam, seperti yang telah disusun oleh Newton. Ilmu pengetahuan alam
itu telah mengajarkan kita, bahwa perlu terlebih dahulu secara kritis menilai
pengenalan atau tindakan mengenal itu sendiri.
Pemikiran Pokok Descartes, Spinoza,
Dan Leibniz
1.
Deskartes ( 1596-1650)
Pada bukunya yang berjudul di caurs deia methode (
1537) dan meditations ( 1642) kedua buku ini saling melengkapisatu sama lain.
Didalam kedua buku inilah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu, metode ini
juga sering disebut cogito Descartes, atau metode catigo saja.
Ia mengatahui bahwa tidak mudah meyakinkan
tokooh-tokoh gereja. Bahwa dasar filsafat vharuslah rasio (akal) untuk
meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun orgumentasi
yang sangat terkenal.
Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat,
Descartes meragukan (lebih dahulu segala sesuatu yang dapat diragukan. Didalam
mimpi seolah olah seorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi,
persis seperti tidak mimpi (juga) begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi
dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Tatkala
bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi.
Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan
kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita juga, itu tidak
ada. Akan tetapi benda-benda itu sunguh-sunguh ada bila dilihat dari posisi
kita dalam mimpi. Halusinasi. Ilusi dan roh halus.
2. Spinoza
( 1632-1677 M)
Dalam gometri. Spinoza memulai dengan meletakkan
defenisi- defenisi, cobalah perhatikan beberapa contoh defenisi ini yang
digunakan dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dalam metafisika defenisi ini
diambil dari Solomon : 73)
Berikut beberapa definisinya :
a. sesuatu yang sebabnya pada dirinya
saya maksudkan esensinya mengandung eksistensi, atau sesuatu yang hanya
dipahami sebagai adanya.
b. sesuatu dikatakan terbatas bila ia
dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain, misalnya tubuh kita terbatas, yang
membatasinya ialah besarnya tubuh kita itu.
c. yang saya maksud dengan kekekalan
(etermity) ialah sifat pada aksistensi itu tadi spinosa berpendapat bahwa apa
saja yang benar-benar ada, maka adanya itu haruslah abadi sama halnya dengan
tatkala ia berbicara dalam astronomi, defenisi selalu di ikuti oleh aksioma.
Aksioma ialah jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus.
Aksioma-aksioma :
·
sesuatu yang
tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui sesuatu
yang lain harus di pahami melalui dirinya sendiri.
·
dari suatu
sebab tentu di ikuti bila tidak ada sebab tidak mungkin ada akibat yang
mengikutinya.
·
pengetahuan
kita tentang akibat di tentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab.
3. Lleibniz
(1646-1716)
Metafisika Lleibniz sama memusatkanperhatian pada
substansi. Bagi spinoz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza
,alam semesta ini mekanistis dan keseluruhnya bergantung pada sebab, sementara
substansi pada Lleibniz adalah tujuan. Penentuan prinsip filsafat (eiguiz ialah
prinsip akan yang mencukupi, yang secara sederhana dapat di rumuskan sesuatu
harus mempunyai masalah bahkan tuhan harus mempunyai masalah untuk setiap yang
di ciptaan-nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat Lleibniz.
Sementara sfinoza berpendapat bahwa hanya ada satu
substansi, Leibniz berpendapat bahwa substansiitu monad, setiap monad berbeda
satu dengan yang lain dan tuhan (sesuatu yang super monad dan satu-satunya
monad yang tidak di cipta)adalah pencipta monad-monad itu. Maka karya leigniz
tentang ini di beri judul menadologis (studi tentang monad / yang di seterusnya
1714. ini adalah serusnya).
Monad yang kita
bicarakan di sini , adalah substansi yang sederhana, yang selanjutnya menyusun
substansi yang sederhana,yang selanjutnya menyusun substansi yang lebih besar.
Satu substansi sederhana ialah : substansi yang kecil yang tidak dapat di bagi.
Adapun substansi yang
berupa susunan (Compositas)jenis dapat di bagi. Akan tetapi, ada kesulitan di
sini. Bila simple sub stance (monad) itu terletak dalam ruang, maka akibatnya
ia mesti dapat di bagi. Oleh karena itu,Leibniz menyatakan bahwa semua monad
itu haruslah material dan tidak mempunyai ukuran,tidak dapat di bagi.
Manfaat dari
aliran rasionalisme ini jika kita mengkaji hal positifnya bisa kita terapkan
dalam hal pendidikan. Mencobalah berfikir secara logis dalam setiap tindakan
yang diambil dalam kehidupan ini. Berfikir secara logis bisa membuat kita
berfikir beberapa kali dalam hal pengambilan keputusan. Tapi perlu disika[i
pula bahwa tidak semua hal bisa di logikakan, karena segala sesuatu yang di
dunia ini ada yang bisa dan ada yang tidak masuk kedalam akal budi manusia.
Kita hanya perlu mengkaji ilmu-ilmu yang ada dan menggunakan akal budi untuk
mempelajarinya tapi tidak menggunakan akal budi untuk segala sesuatu hal yang
ada di muka bumi ini.
PENUTUP
Kesimpulan
Rasionalisme merupakan
aliran falsafah yang berpandangan bahwa dasar dan sumber pengetahuan, atau
secara umum falsafah, adalah akal atau rasio. Adalah akal, yang bisa dijadikan
dasar sekaligus sumber pengetahuan, sehingga berhasil memperoleh pengetahuan yang
tetap dan pasti, serta absolut dan universal.
Sebagai sebuah
epistemologi, rasionalisme menggunakan aksioma-aksioma, pengertian-pengertian
atau prinsip-prinsip umum rasional yang bersifat a-priori (tidak peduli),
sebagai basis pengetahuan sekaligus sebagai sumber. Apa yang bersesuaian dengan
prinsip- prinsip dimaksud ini, dan segala hal yang dapat dideduksikan dari
prinsip-prinsip tersebut, itulah pengetahuan bagi kalangan rasionalisme.
Sesuatu yang tidak dideduksikan dari prinsip-prinsip a-priori, atau tidak
sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, itu bukanlah pengetahuan, ia hanyalah
sekedar opini.
Rasionalisme
keberpihakannya hanya terhadap akal atau rasio, rasionalisme pada
akhirnya memang banyak menuai kritik. Namun demikian, problem dan kritik atas
rasionalisme tersebut, tentunya bukan berarti bahwa rasionalisme tidak
mempunyai arti atau manfaat sama sekali. Sebaliknya, sebagai sebuah aliran
falsafah sekaligus sebuah epistemologi, kiranya rasionalisme telah berjasa
banyak bagi sejarah falsafah. Melalui bapak kontinentalnya, rasionalisme telah
menjadi pintu utama bagi kelahiran falsafah babak modern, yang pada gilirannya
telah berhasil melahirkan berbagai aliran-aliran falsafah lainnya, termasuk
aliran yang menentangnya.
Saran
Penulis
sangat menyadari bahwa dalam pembuatan journal ini masih belum sempurna.
Penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, untuk
kesempurnaan journal ini, dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita
tentang filsafat umum khususnya rasionalisme (descarte, spinoza dan Leibniz).
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Muslih,
Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan
kerangka Teori Ilmu Pengetahuan , Yogyakarta : Belukar, 2004 .
Drs. H. Ahmad
Syadali dan Drs. Muzakir, Filsafat Umum, Bandung: CV. Pustaka
Setia, 1997.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta :
PT Bumi Aksara, 2005
Prof.Dr.
Bakhtiar Amsal, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2010
Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2009
PGSD 3/D8
Hp :
089622214077
Rabu, 17 Desember 2014
Dinamika Hidup di Kalangan Remaja
DINAMIKA HIDUP
DIKALANGAN REMAJA SAAT INI
|
A
|
pa
yang tersirat dalam benak kita ketika kita mendengar kata “REMAJA”? tentu kita akan berfikir bahwa mereka adalah
sekelompok orang yang berusia 13-17 tahun yang sedang tumbuh berkembang,
beranjak dewasa dari tingkat proses kematangan jiwa sampai kematangan diri.
Remaja bisa dikatakan sebagai pribadi yang masih mengalami suatu keadaan yang
dinamakan labil yang berarti dirinya
masih belum mampu mengkondisikan atau mengontrol emosi untuk sesuatu hal yang
ada di lingkungannya dan cenderung sering ikut terbawa kedalam hal hal yang
berbau negative yang bisa menjerumuskan hidupnya kedalam bahaya surganya dunia.
Banyaknya remaja saat ini tidak menyadari akan bahaya yang mengancam
kelangsungan masa depannya itu sejak dini, tetapi mereka menyadari hal itu
sebagai sesuatu hal yang lumrah, sebagai suatu gaya hidup, dan kerap terjadi
pada remaja seusia mereka.
Banyak remaja saat ini lebih
cenderung memikirkan segala sesuatunya yang bersifat matrealistis. Apapun hal
yang ada di hidupnya pasti dikaitkan pada kemampuan material yang dia miliki.
Kasus ini terjadi pada beberapa remaja yang memiliki kemampuan material yang
tidak terlalu tinggi, tetapi dia hidup dan bergaul di lingkungan yang berkasta
yang segala sesuatunya diukur dari kemampuan material dan derajat hidup pun
diukur dari tingginya strata sosial yang dimiliki oleh ayah ibunya. Hal yang
terjadi demikian mengakibatkan seorang remaja yang berstrata sosial rendah yang sedang tumbuh berkembangan dan mengalami
kelabilan emosi menjadi gelap mata dan ia memiliki keinginan besar untuk
menjadi seseorang yang berkecukupan dengan cara yang salah. Dikalangan remaja
yang memiliki kelas sosial tinggi umumnya sering memerkan kekayaan orang tuanya
dengan cara seperti membawa kendaraan mewah ke sekolah, menggunakan
barang-barang bermerek (tas, pakaian, sepatu, dll), membawa gedget gedget
terbaru yang sedang tenar atau hits di jaman ini.
Hal yang dilakukan para remaja
kalangan atas itu umumnya menyebabkan beberapa remaja yang katakanlah berstrata
sosial rendah yang kurang mendapat didikan moral, pemahaman pendidikan agama
dari keluarganya, dan kelabilan emosi yang umumnya dimiliki seorang remaja
mengakibatkan ia cenderung bersifat iri hati dan memiliki keinginan untuk hidup
seperti remaja yang berkalangan atas itu, namun mereka kerap kali melakukan hal
yang mengarah kepada sesuatu yang negative karena mereka tidak berpikir panjang
atas apa yang akan terjadi kedepannya dengan apa yang dia akan lakukan saat
ini. Ini bisa terjadi karena kurangnya pengarahan dari orang tua bahwa dirinya terlahir
dan hidup di dalam sebuah keluarga yang sederhana dan tidak memiliki kelebihan
materi yang bisa di perlihatkan kepada orang lain seperti halnya remaja yang
ada di kalangan atas itu. Tidaklah ia harus menyombongkan kekayaan orang tuanya
karena kekayaan itu sifatnya sementara dan bukan miliknya pribadi, toh walaupun
memang kekayaan itu diwariskan hanya pada dirinya, tetapi jika dia tidak
berusaha untuk mendapatkan pekerjaan layak dan mendapatkan penghasilan tetap,
harta kekayaan yang diwariskan itu akan habis begitu saja tanpa adanya sisa
untuk masa depannya kelak.
Remaja yang pada dasarnya mengalami
kelabilan dalam proses kehidupannya dan ditambah dengan adanya pengaruh oleh
lingkunga pergaulannya terutama di sekolah yang sifatny tidak mendidik atau
cenderung matrealistis akan membuat jiwanya terguncang dengan keadaan material
yang kurang tetapi ia ingin hidup seperti teman-temannya yang bekecukupan lebih
dalam segala hal. Jalan pintas yang kerap dilakukan remaja saat ini untuk
menunjang eksistensinya di kalangan teman temannya yang memiliki kelebihan
materi itu dengan cara meminjam uang sana sini yang akhirnya membuatnya
terlilit hutang dimana mana, memeras orang tuanya sendiri agar mampu
memberikannya uang sejumlah yang dia minta setiap harinya untuk menunjang
penampilannya di sekolah di depan teman-temannya, dan ada cara yang lebih tidak
terpuji lagi yaitu, menjual harga diri atau kesucian mahkota dirinya pada
segelintir pria hidung belang yang haus akan belaian seorang remaja belia dan
mampu memberikan kepuasan material kepada sang remaja yang menjual kehormatan
pada dirinya.
Hal itu kerap terjadi di kalangan
remaja saat ini karena tuntutan kehidupan di dalam lingkungan pergaulannya yang
menuntut dirinya harus bisa tampil modis, terkini, dan menggunakan
barang-barang bermerek yang harganya tidak mungkin terjangkau oleh anak anak
seusia itu yang hanya diberi uang saku beberapa puluh ribu rupiah (anak
berkecukupan sederhana). Hal itulah yang membuat sebagian remaja gelap mata dan
lebih memilih untuk menggadaikan atau menjual harga diri dan kehormatannya
kepada pria hidung belang diluaran sana. Bahkan ada beberapa kasus di luaran
sana yaitu karena si remaja sudah terlalu nyaman di dalam pelukan harta pria
hidung belang yang tidak jarang sudah beristri menjadikan remaja itu sebagai
istri simpanannya atau selir di kehidupannya. Tetapi ada beberapa remaja juga
yang berganti-ganti pria hidung belang karna pada satu pria hidung belang ia
belum merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang hedonis. Ada pula
kasus ia berganti ganti pria hidung belang karna pada pria hidung belang yang
satu sudah tidak dapat diandalkan lagi kecukupan materinya untuk menunjang gaya
hidupnya yang serba mewah.
Dinamika kehidupan remaja saat ini
yang menuntut keharusan setiap pribadinya untuk tampil modis, terkini, dan
menggunakan segala sesuatunya yang bermerek tidak lepas dari adanya globalisasi
yang menerpa pergaulan remaja di Indonesia yang berkiblat pada pergaulan yang
kebarat-baratan. Sifat hidup yang hedonis membuat mereka memutar otak untuk
bagaimana caranya memenuhi tuntutan hidup seperti itu terutama remaja-remaja di
kota besar sampai-sampai mereka rela mengorbankan harta terpenting dalam
hidupnya untuk masa depannya kelak pada seorang pria hidung belang yang tidak
bertanggung jawab. Tetapi semua hal ini tidak semata mata kesalahan pada pria
hidung belang itu, karena mereka ini tidak mungkin melayani atau memberikan
kemewahan yang serta merta kepada remaja itu kalau para remaja itu sendiri
tidak menawarkan diri dan mencari penghasilan sampingan dari cara yang sangat
tidak terpuji bagi remaja seusia itu.
Pada hakikatnya yang kita ketahui,
seorang remaja yang sedang tumbuh berkembang emosi jiwanya haruslah fokus dalam
jenjang pendidikannya untuk bisa mencapai kelulusan di tingkat sekolah yang
sedang ia emban, bukan malah menjadikan sekolah sebagai ajang dan sarana untuk
memamerkan kekayaan yang dimiliki oleh orang tua kepada teman-teman sebayanya
dan membuat timbulnya rasa iri diantara teman-teman sebayanya itu yang membuat
mereka yang salah kaprah memilih jalan pintas yang menyesatkan masa depan mereka
hanya untuk menikmati kenikmatan dunia yang sesaat dan fana ini.
Dalam hal ini peran orang tua
sangatlah dibutuhkan sebagai pihak primer yang terlibat di dalam faktor
internal tumbuh kembangnya seorang anak, terutama seorang remaja yang pada saat
seusia ini butuh bimbingan dan arahan di dalam segala hal di hidupnya agar ia
tidak terjerat lembah menyesatkan yang hanya membuatnya berfikir matrealistis
bukan pada saatnya. Orang tua perlu memberikan pemahaman secara edukatif,
keagamaan, seputar gaya hidup pergaulan saat ini dan memberikan pemahaman
tentang kondisi ekonomi keluarga saat ini agar anak mampu memahami dan meresapi
apa yang dia miliki saat ini sifatnya milik orang tua dan hanya sementara,
karena pada saat nanti usianya mencapai usia kerja, ia akan paham bagaimana
sulitnya orang tua mencari nafkah untuk membiayai hidupnya dengan semua anggota
keluarga yang dia miliki dan akan dia sadari bahwa tidak mudah mengumpulakan
satu rupiah per harinya untuk mencukupi kebutuhan pokok hidupnya dan seluruh anggota
keluarganya. Jadi baikanya ia bisa melihat ke arah itu bahwa tugasnya sebagai
seorang remaja hanyalah menuntut ilmu setinggi tingginya, fokus dalam belajar
mengejar cita cita bukan malah fokus untuk mencari uang tambahan untuk memenuhi
tuntutan hidup yang hedonis di kalangan teman-temannya.
Pentingnya pendidikan dan pemahaman
keagamaan dalam pendidikan pertumbuhan hidupnya untuk membuatnya mengeti bahwa
apa yang dilakukannya itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang
dia inginkan adalah salah dan dosa. Jika ia dikenalkan dengan Tuhannya dan
mengerti bahwa setiap kealahan yang ia lakukan dengan sengaja yang sifatnya
merugikan dan tidak bermanfaat bagi orang lain itu adalah dosa yang tidak
terasa yang ia buat sendiri untuk membahagiakan hidupnya di dunia. Sedangkan,
kehidupan ini tidak hanya di dunia, tetapi kelak manusia akan hidup kekal di
akhirat yang mana segala amal perbuatannya di dunia akan ditimbang dan dibalas
pada hari akhir nanti.
Jadi
disarankan kepada para orang tua untuk bisa lebih menanamkan hal hal positif
yang sifatnya mampu diterima remaja-remaja saat ini dan mengarahkan mereka
untuk bergaul dengan teman teman yang sekiranya baik untuk pergaulan dirinya di
rumah maupun di sekolah. Orang tua berhak mengenal setiap teman bermain anaknya
tanpa harus over protective (proteksi berlebihan) pada anak dalam memilih
teman. Biarlah ia memilih teman sepergaulannya sesuai dengan kepuasan anak itu,
tetapi dibarengi dengan pengarahan dan pemahaman tentang pergaulan yang
mengarah ke arah positive atau negative.
DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr.
Bakhtiar Amsal, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2010
Drs.
Susanto.A, M.Pd., Filsafat Ilmu, Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2011
Dr.
Ismail Fu’ad Farid & Dr. Mutawali Abdul Hamid, Cara Mudah Belajar Filsafat, Jogjakarta: IRCiSoD, 2012
Muhammad Muslih,
Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan
kerangka Teori Ilmu Pengetahuan , Yogyakarta : Belukar, 2004 .
Drs. H. Ahmad
Syadali dan Drs. Muzakir, Filsafat Umum, Bandung: CV. Pustaka
Setia, 1997.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta :
PT Bumi Aksara, 2005
aAchmadi Asmoro,
Filsafat Umum, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2009
PGSD 3/D8
Hp :
089622214077
Langganan:
Komentar (Atom)
