Selasa, 30 Desember 2014

Power Point Dinamika Hidup di Kalangan Remaja

Manfaat Mempelajari Filsafat

MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Dr. Oemar A. Hosein mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: Pembimbing ke Filsafat Metafisika, filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran-pikiran dan kematangan hati, sekalipun menghadapi maut.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidupi, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menerapkan nilai, menerapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soejabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajam pikiran maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun Metafisika (hakikat keaslian).
Manfaat mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam faedah, yaitu :
1.      Agar terlatih berpikir serius
2.      Agar mampu memahami filsafat
3.      Agar mungkin menjadi filsafat
4.      Agar menjadi warga negara yang baik
 Berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. Plato menghendaki kepala negara seharusnya filosuf. Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam, menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Dengan uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa secara kongkrit manfaat mempelajari filsafat adalah :
1.      Filsafat menolong mendidik,
2.      Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3.      Filsafat memberikan pandangan yang luas
4.      Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri
5.      Filsafat memberikan dasar,-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.


Jumat, 19 Desember 2014



CONTOH DESIGN BANNER

Filsafat rasionalisme

ALIRAN FILSAFAT ILMU RASIONALISME

Filsafat ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang sangat berguna untuk menjelaskan apa tujuan ilmu bagi manusia. Secara garis besar, filsafat ilmu mengemukakan alasan yang mendasar mengapa pengetahuan diperlukan bagi keteraturan dalam hidup manusia. Tujuan analisis filsafat ilmu adalah tentang ilmju pengetahuan dan cara-cara bagaimana pengetahuan ilmiah itu diperoleh. Jadi, filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri. Dalam filsafat ilmu terdapat aliran rasionalisme yang tercipta dari pemikiran manusia tentang segala sesuatu yang sifatnya logis. Erat kaitannya antara filsafat ilmu dengan aliran rasionalisme dalam filsafat.
Kata kunci : Filsafat, Ilmu pengetahuan, pengetahuan ilmiah, rasionalisme.

PENDAHULUAN

            Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab pertanyaan pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus. Filsafat membebaskan manusia daricara berpikir yang mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir secara luas dan lebih mendalam, yakni berpikir secara universal sambil berupaya mencapai radix (mendalam) dan menemukan esensi suatu permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak utuh dan begitu fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren. Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya. Kemampuan itu dipelajari melalui dua jalur, yaitu secara sistematik dan secara historis.

            Filsafat secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yakni filsafat sistematis dan sejarah filsafat. Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran filsafat. Di dalamnya meliputi logika, metodologi, epistimologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan (teologi), filsafat manusia dan kelompok filsafat khusus. Dalam filsafat sistematis yang terdapat di dalamnya filsafat ilmu terbentuk sebuah aliran filsafat yang diberi nama rasionalisme. Seiring dengan berjalannya waktu banyak aliran-aliran filsafat yang bermunculan didasarkan pada pembebasan manusia untuk berfikir secara luas dan lebih mendalam terhadap sesuatu hal yang ada di bumi ini. Karena filsafat membimbing manusia untuk berpikir sistematis dan logis timbullah aliran filsafat ilmu rasionalisme yang mendasarkan segala sesuatunya berdasarkan akal sehat.

ANALISA DAN PEMBAHASAN

            Pada abad ke-13 di Eropa sudah timbul sistem filsafat yang boleh disebut merupakan keseluruhan. Sistem ini diajarkan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dalam abab ke-14 timbulah aliran yang dapat dinamai pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar aliran baru ini ialah kesadaran atas yang individual yang kongkrit. Tak dapat dipungkiri zaman filsafat modern telah dimulai, munculnya berbagai aliran pemikiran, yaitu : Rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, positivisme, evolusionisme, materalisme, neokantianisme, pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi, eksistensialisme. Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz).

Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (resen) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengatahuan. Jika empiresme mengatakan bahwa pengatahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengejarkan bahwa pengatahuan di peroleh dengan cara berfikir alat dalam berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.

Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.

Metode yang diterapkan dalam aliran ini adalah deduktif. Disebut ilmu deduktif karena semua pemecahan yang dihadapi dalam ilmu ini tidak didasarkan atas pengalaman indrawi/empiris, melainkan atas dasar deduksi/penjabaran. Deduksi ialah proses pemikiran dimana akal budi manusia dari pengetahuan tentang hal-hal umum dan abstrak menyimpulkan tentang hal-hal yang bersifat khusus dan individual. Teladan yang dikemukakan adalah ilmu pasti. Filsufnya antara lain Rene Descartes, B. Spinoza, Leibniz.

Dalam hal aktivitas pengertian dan penilaian manusia, aliran rasionalisme seperti yang diaktakan oleh Immanuel Kant, penekanan yang terdapat dalam pengertian dan penialaian manusia adalah menurut aspek atau segi kejiwaan sebagai analisis kritis. Menurut Kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu pengetahuan alam, seperti yang telah disusun oleh Newton. Ilmu pengetahuan alam itu telah mengajarkan kita, bahwa perlu terlebih dahulu secara kritis menilai pengenalan atau tindakan mengenal itu sendiri.

 Pemikiran Pokok Descartes, Spinoza, Dan Leibniz
1.      Deskartes ( 1596-1650)
Pada bukunya yang berjudul di caurs deia methode ( 1537) dan meditations ( 1642) kedua buku ini saling melengkapisatu sama lain. Didalam kedua buku inilah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu, metode ini juga sering disebut cogito Descartes, atau metode catigo saja.
Ia mengatahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokooh-tokoh gereja. Bahwa dasar filsafat vharuslah rasio (akal) untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun orgumentasi yang sangat terkenal.
Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu segala sesuatu yang dapat diragukan. Didalam mimpi seolah olah seorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (juga) begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi.
Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita juga, itu tidak ada. Akan tetapi benda-benda itu sunguh-sunguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi. Halusinasi. Ilusi dan roh halus.

2.      Spinoza ( 1632-1677 M)
Dalam gometri. Spinoza memulai dengan meletakkan defenisi- defenisi, cobalah perhatikan beberapa contoh defenisi ini yang digunakan dalam membuat kesimpulan-kesimpulan dalam metafisika defenisi ini diambil dari Solomon : 73)
Berikut beberapa definisinya :
a.       sesuatu yang sebabnya pada dirinya saya maksudkan esensinya mengandung eksistensi, atau sesuatu yang hanya dipahami sebagai adanya.
b.      sesuatu dikatakan terbatas bila ia dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain, misalnya tubuh kita terbatas, yang membatasinya ialah besarnya tubuh kita itu.
c.       yang saya maksud dengan kekekalan (etermity) ialah sifat pada aksistensi itu tadi spinosa berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu haruslah abadi sama halnya dengan tatkala ia berbicara dalam astronomi, defenisi selalu di ikuti oleh aksioma. Aksioma ialah jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus.
Aksioma-aksioma :
·         sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui sesuatu yang lain harus di pahami melalui dirinya sendiri.
·         dari suatu sebab tentu di ikuti bila tidak ada sebab tidak mungkin ada akibat yang mengikutinya.
·         pengetahuan kita tentang akibat di tentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab.

3.      Lleibniz (1646-1716)
Metafisika Lleibniz sama memusatkanperhatian pada substansi. Bagi spinoz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza ,alam semesta ini mekanistis dan keseluruhnya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Lleibniz adalah tujuan. Penentuan prinsip filsafat (eiguiz ialah prinsip akan yang mencukupi, yang secara sederhana dapat di rumuskan sesuatu harus mempunyai masalah bahkan tuhan harus mempunyai masalah untuk setiap yang di ciptaan-nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat Lleibniz.
Sementara sfinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, Leibniz berpendapat bahwa substansiitu monad, setiap monad berbeda satu dengan yang lain dan tuhan (sesuatu yang super monad dan satu-satunya monad yang tidak di cipta)adalah pencipta monad-monad itu. Maka karya leigniz tentang ini di beri judul menadologis (studi tentang monad / yang di seterusnya 1714. ini adalah serusnya).
Monad yang kita bicarakan di sini , adalah substansi yang sederhana, yang selanjutnya menyusun substansi yang sederhana,yang selanjutnya menyusun substansi yang lebih besar. Satu substansi sederhana ialah : substansi yang kecil yang tidak dapat di bagi.


Adapun substansi yang berupa susunan (Compositas)jenis dapat di bagi. Akan tetapi, ada kesulitan di sini. Bila simple sub stance (monad) itu terletak dalam ruang, maka akibatnya ia mesti dapat di bagi. Oleh karena itu,Leibniz menyatakan bahwa semua monad itu haruslah material dan tidak mempunyai ukuran,tidak dapat di bagi.

          Manfaat dari aliran rasionalisme ini jika kita mengkaji hal positifnya bisa kita terapkan dalam hal pendidikan. Mencobalah berfikir secara logis dalam setiap tindakan yang diambil dalam kehidupan ini. Berfikir secara logis bisa membuat kita berfikir beberapa kali dalam hal pengambilan keputusan. Tapi perlu disika[i pula bahwa tidak semua hal bisa di logikakan, karena segala sesuatu yang di dunia ini ada yang bisa dan ada yang tidak masuk kedalam akal budi manusia. Kita hanya perlu mengkaji ilmu-ilmu yang ada dan menggunakan akal budi untuk mempelajarinya tapi tidak menggunakan akal budi untuk segala sesuatu hal yang ada di muka bumi ini.


PENUTUP

Kesimpulan
Rasionalisme merupakan aliran falsafah yang berpandangan bahwa dasar dan sumber pengetahuan, atau secara umum falsafah, adalah akal atau rasio. Adalah akal, yang bisa dijadikan dasar sekaligus sumber pengetahuan, sehingga berhasil memperoleh pengetahuan yang tetap dan pasti, serta absolut dan universal.
Sebagai sebuah epistemologi, rasionalisme menggunakan aksioma-aksioma, pengertian-pengertian atau prinsip-prinsip umum rasional yang bersifat a-priori (tidak peduli), sebagai basis pengetahuan sekaligus sebagai sumber. Apa yang bersesuaian dengan prinsip- prinsip dimaksud ini, dan segala hal yang dapat dideduksikan dari prinsip-prinsip tersebut, itulah pengetahuan bagi kalangan rasionalisme. Sesuatu yang tidak dideduksikan dari prinsip-prinsip a-priori, atau tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, itu bukanlah pengetahuan, ia hanyalah sekedar opini.
Rasionalisme  keberpihakannya hanya terhadap akal atau rasio, rasionalisme pada akhirnya memang banyak menuai kritik. Namun demikian, problem dan kritik atas rasionalisme tersebut, tentunya bukan berarti bahwa rasionalisme tidak mempunyai arti atau manfaat sama sekali. Sebaliknya, sebagai sebuah aliran falsafah sekaligus sebuah epistemologi, kiranya rasionalisme telah berjasa banyak bagi sejarah falsafah. Melalui bapak kontinentalnya, rasionalisme telah menjadi pintu utama bagi kelahiran falsafah babak modern, yang pada gilirannya telah berhasil melahirkan berbagai aliran-aliran falsafah lainnya, termasuk aliran yang menentangnya.
Saran
Penulis sangat menyadari bahwa dalam pembuatan journal ini masih belum sempurna. Penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, untuk kesempurnaan journal ini, dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita tentang filsafat umum khususnya rasionalisme (descarte, spinoza dan Leibniz).





DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu,  Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan kerangka Teori Ilmu Pengetahuan , Yogyakarta : Belukar, 2004 .
Drs. H. Ahmad Syadali dan Drs. Muzakir, Filsafat Umum,  Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2005
Prof.Dr. Bakhtiar Amsal, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010
Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009



PGSD 3/D8
Hp : 089622214077


Rabu, 17 Desember 2014

Dinamika Hidup di Kalangan Remaja

DINAMIKA HIDUP DIKALANGAN REMAJA SAAT INI


A
pa yang tersirat dalam benak kita ketika kita mendengar kata “REMAJA”?  tentu kita akan berfikir bahwa mereka adalah sekelompok orang yang berusia 13-17 tahun yang sedang tumbuh berkembang, beranjak dewasa dari tingkat proses kematangan jiwa sampai kematangan diri. Remaja bisa dikatakan sebagai pribadi yang masih mengalami suatu keadaan yang dinamakan labil yang berarti dirinya masih belum mampu mengkondisikan atau mengontrol emosi untuk sesuatu hal yang ada di lingkungannya dan cenderung sering ikut terbawa kedalam hal hal yang berbau negative yang bisa menjerumuskan hidupnya kedalam bahaya surganya dunia. Banyaknya remaja saat ini tidak menyadari akan bahaya yang mengancam kelangsungan masa depannya itu sejak dini, tetapi mereka menyadari hal itu sebagai sesuatu hal yang lumrah, sebagai suatu gaya hidup, dan kerap terjadi pada remaja seusia mereka.

            Banyak remaja saat ini lebih cenderung memikirkan segala sesuatunya yang bersifat matrealistis. Apapun hal yang ada di hidupnya pasti dikaitkan pada kemampuan material yang dia miliki. Kasus ini terjadi pada beberapa remaja yang memiliki kemampuan material yang tidak terlalu tinggi, tetapi dia hidup dan bergaul di lingkungan yang berkasta yang segala sesuatunya diukur dari kemampuan material dan derajat hidup pun diukur dari tingginya strata sosial yang dimiliki oleh ayah ibunya. Hal yang terjadi demikian mengakibatkan seorang remaja yang berstrata sosial rendah  yang sedang tumbuh berkembangan dan mengalami kelabilan emosi menjadi gelap mata dan ia memiliki keinginan besar untuk menjadi seseorang yang berkecukupan dengan cara yang salah. Dikalangan remaja yang memiliki kelas sosial tinggi umumnya sering memerkan kekayaan orang tuanya dengan cara seperti membawa kendaraan mewah ke sekolah, menggunakan barang-barang bermerek (tas, pakaian, sepatu, dll), membawa gedget gedget terbaru yang sedang tenar atau hits di jaman ini.

            Hal yang dilakukan para remaja kalangan atas itu umumnya menyebabkan beberapa remaja yang katakanlah berstrata sosial rendah yang kurang mendapat didikan moral, pemahaman pendidikan agama dari keluarganya, dan kelabilan emosi yang umumnya dimiliki seorang remaja mengakibatkan ia cenderung bersifat iri hati dan memiliki keinginan untuk hidup seperti remaja yang berkalangan atas itu, namun mereka kerap kali melakukan hal yang mengarah kepada sesuatu yang negative karena mereka tidak berpikir panjang atas apa yang akan terjadi kedepannya dengan apa yang dia akan lakukan saat ini. Ini bisa terjadi karena kurangnya pengarahan dari orang tua bahwa dirinya terlahir dan hidup di dalam sebuah keluarga yang sederhana dan tidak memiliki kelebihan materi yang bisa di perlihatkan kepada orang lain seperti halnya remaja yang ada di kalangan atas itu. Tidaklah ia harus menyombongkan kekayaan orang tuanya karena kekayaan itu sifatnya sementara dan bukan miliknya pribadi, toh walaupun memang kekayaan itu diwariskan hanya pada dirinya, tetapi jika dia tidak berusaha untuk mendapatkan pekerjaan layak dan mendapatkan penghasilan tetap, harta kekayaan yang diwariskan itu akan habis begitu saja tanpa adanya sisa untuk masa depannya kelak.
            Remaja yang pada dasarnya mengalami kelabilan dalam proses kehidupannya dan ditambah dengan adanya pengaruh oleh lingkunga pergaulannya terutama di sekolah yang sifatny tidak mendidik atau cenderung matrealistis akan membuat jiwanya terguncang dengan keadaan material yang kurang tetapi ia ingin hidup seperti teman-temannya yang bekecukupan lebih dalam segala hal. Jalan pintas yang kerap dilakukan remaja saat ini untuk menunjang eksistensinya di kalangan teman temannya yang memiliki kelebihan materi itu dengan cara meminjam uang sana sini yang akhirnya membuatnya terlilit hutang dimana mana, memeras orang tuanya sendiri agar mampu memberikannya uang sejumlah yang dia minta setiap harinya untuk menunjang penampilannya di sekolah di depan teman-temannya, dan ada cara yang lebih tidak terpuji lagi yaitu, menjual harga diri atau kesucian mahkota dirinya pada segelintir pria hidung belang yang haus akan belaian seorang remaja belia dan mampu memberikan kepuasan material kepada sang remaja yang menjual kehormatan pada dirinya.

            Hal itu kerap terjadi di kalangan remaja saat ini karena tuntutan kehidupan di dalam lingkungan pergaulannya yang menuntut dirinya harus bisa tampil modis, terkini, dan menggunakan barang-barang bermerek yang harganya tidak mungkin terjangkau oleh anak anak seusia itu yang hanya diberi uang saku beberapa puluh ribu rupiah (anak berkecukupan sederhana). Hal itulah yang membuat sebagian remaja gelap mata dan lebih memilih untuk menggadaikan atau menjual harga diri dan kehormatannya kepada pria hidung belang diluaran sana. Bahkan ada beberapa kasus di luaran sana yaitu karena si remaja sudah terlalu nyaman di dalam pelukan harta pria hidung belang yang tidak jarang sudah beristri menjadikan remaja itu sebagai istri simpanannya atau selir di kehidupannya. Tetapi ada beberapa remaja juga yang berganti-ganti pria hidung belang karna pada satu pria hidung belang ia belum merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang hedonis. Ada pula kasus ia berganti ganti pria hidung belang karna pada pria hidung belang yang satu sudah tidak dapat diandalkan lagi kecukupan materinya untuk menunjang gaya hidupnya yang serba mewah.

            Dinamika kehidupan remaja saat ini yang menuntut keharusan setiap pribadinya untuk tampil modis, terkini, dan menggunakan segala sesuatunya yang bermerek tidak lepas dari adanya globalisasi yang menerpa pergaulan remaja di Indonesia yang berkiblat pada pergaulan yang kebarat-baratan. Sifat hidup yang hedonis membuat mereka memutar otak untuk bagaimana caranya memenuhi tuntutan hidup seperti itu terutama remaja-remaja di kota besar sampai-sampai mereka rela mengorbankan harta terpenting dalam hidupnya untuk masa depannya kelak pada seorang pria hidung belang yang tidak bertanggung jawab. Tetapi semua hal ini tidak semata mata kesalahan pada pria hidung belang itu, karena mereka ini tidak mungkin melayani atau memberikan kemewahan yang serta merta kepada remaja itu kalau para remaja itu sendiri tidak menawarkan diri dan mencari penghasilan sampingan dari cara yang sangat tidak terpuji bagi remaja seusia itu.


            Pada hakikatnya yang kita ketahui, seorang remaja yang sedang tumbuh berkembang emosi jiwanya haruslah fokus dalam jenjang pendidikannya untuk bisa mencapai kelulusan di tingkat sekolah yang sedang ia emban, bukan malah menjadikan sekolah sebagai ajang dan sarana untuk memamerkan kekayaan yang dimiliki oleh orang tua kepada teman-teman sebayanya dan membuat timbulnya rasa iri diantara teman-teman sebayanya itu yang membuat mereka yang salah kaprah memilih jalan pintas yang menyesatkan masa depan mereka hanya untuk menikmati kenikmatan dunia yang sesaat dan fana ini.

            Dalam hal ini peran orang tua sangatlah dibutuhkan sebagai pihak primer yang terlibat di dalam faktor internal tumbuh kembangnya seorang anak, terutama seorang remaja yang pada saat seusia ini butuh bimbingan dan arahan di dalam segala hal di hidupnya agar ia tidak terjerat lembah menyesatkan yang hanya membuatnya berfikir matrealistis bukan pada saatnya. Orang tua perlu memberikan pemahaman secara edukatif, keagamaan, seputar gaya hidup pergaulan saat ini dan memberikan pemahaman tentang kondisi ekonomi keluarga saat ini agar anak mampu memahami dan meresapi apa yang dia miliki saat ini sifatnya milik orang tua dan hanya sementara, karena pada saat nanti usianya mencapai usia kerja, ia akan paham bagaimana sulitnya orang tua mencari nafkah untuk membiayai hidupnya dengan semua anggota keluarga yang dia miliki dan akan dia sadari bahwa tidak mudah mengumpulakan satu rupiah per harinya untuk mencukupi kebutuhan pokok hidupnya dan seluruh anggota keluarganya. Jadi baikanya ia bisa melihat ke arah itu bahwa tugasnya sebagai seorang remaja hanyalah menuntut ilmu setinggi tingginya, fokus dalam belajar mengejar cita cita bukan malah fokus untuk mencari uang tambahan untuk memenuhi tuntutan hidup yang hedonis di kalangan teman-temannya.

            Pentingnya pendidikan dan pemahaman keagamaan dalam pendidikan pertumbuhan hidupnya untuk membuatnya mengeti bahwa apa yang dilakukannya itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan adalah salah dan dosa. Jika ia dikenalkan dengan Tuhannya dan mengerti bahwa setiap kealahan yang ia lakukan dengan sengaja yang sifatnya merugikan dan tidak bermanfaat bagi orang lain itu adalah dosa yang tidak terasa yang ia buat sendiri untuk membahagiakan hidupnya di dunia. Sedangkan, kehidupan ini tidak hanya di dunia, tetapi kelak manusia akan hidup kekal di akhirat yang mana segala amal perbuatannya di dunia akan ditimbang dan dibalas pada hari akhir nanti.
Jadi disarankan kepada para orang tua untuk bisa lebih menanamkan hal hal positif yang sifatnya mampu diterima remaja-remaja saat ini dan mengarahkan mereka untuk bergaul dengan teman teman yang sekiranya baik untuk pergaulan dirinya di rumah maupun di sekolah. Orang tua berhak mengenal setiap teman bermain anaknya tanpa harus over protective (proteksi berlebihan) pada anak dalam memilih teman. Biarlah ia memilih teman sepergaulannya sesuai dengan kepuasan anak itu, tetapi dibarengi dengan pengarahan dan pemahaman tentang pergaulan yang mengarah ke arah positive atau negative.




DAFTAR PUSTAKA


Prof.Dr. Bakhtiar Amsal, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010
Drs. Susanto.A, M.Pd., Filsafat Ilmu, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011
Dr. Ismail Fu’ad Farid & Dr. Mutawali Abdul Hamid, Cara Mudah Belajar Filsafat, Jogjakarta: IRCiSoD, 2012
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu,  Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan kerangka Teori Ilmu Pengetahuan , Yogyakarta : Belukar, 2004 .
Drs. H. Ahmad Syadali dan Drs. Muzakir, Filsafat Umum,  Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2005
aAchmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009



PGSD 3/D8
Hp : 089622214077